Khotbah “Evaluasi Diri di Hadapan Allah”
Teks:
Mazmur 139:23–24
“Selidikilah
aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;
lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!”
Saudara-saudara
yang dikasihi Tuhan,
Dalam hidup ini, kita sering mengevaluasi banyak hal: keuangan, pekerjaan,
penampilan, bahkan orang lain. Namun, evaluasi yang paling penting adalah
evaluasi diri di hadapan Allah.
Mazmur
139:23–24 adalah doa yang sangat jujur dan berani dari Daud. Bukan doa
minta berkat atau pembelaan, tetapi doa minta diselidiki dan diuji oleh
Tuhan sendiri. Inilah inti dari evaluasi diri yang sejati dan
menyelamatkan.
I.
Evaluasi Diri Dimulai dari Hati yang Terbuka (ay. 23a)
“Selidikilah aku, ya Allah,
dan kenallah hatiku…”
1. Makna Kata: "Selidikilah aku, ya
Allah" (bahasa Ibrani)
- “Selidikilah” dalam Ibrani: חָקַר – ḥāqar
Arti dasarnya: menyelidiki secara mendalam, menggali, menguji
dengan teliti.
➤ Kata ini sering digunakan untuk
menggambarkan pencarian yang serius dan menyeluruh, seperti meneliti sesuatu
yang tersembunyi di kedalaman.
- “Kenallah hatiku” → dalam
bahasa Ibrani: וּדְעָה לְבָבִי – ūde’āh levavi
➤ “Levav”
(לבב) = hati, bukan hanya emosi, tetapi pusat
dari kepribadian manusia: pikiran, niat, kehendak, dan moralitas.
Artinya: Daud meminta Tuhan untuk menggali
sampai ke inti terdalam dari siapa dirinya.
Ini bukan permintaan biasa. Ini adalah doa penyerahan total.
2. Hati yang Terbuka: Syarat Mutlak Evaluasi
Diri
a. Tanpa hati yang terbuka, evaluasi diri menjadi dangkal.
- Evaluasi diri sejati tidak mungkin terjadi
jika kita:
- Bersikap defensif,
- Menolak kritik,
- Menyembunyikan dosa.
b. Hati yang terbuka = hati
yang rela diselidiki dan dibongkar.
- Ini bukan tentang mencari
pembenaran, tapi siap ditegur dan siap dibentuk ulang oleh
Tuhan.
- Seperti
tanah yang dibajak: siap
ditanami benih baru setelah lapisan kerasnya dihancurkan.
Amsal 28:13
“Siapa menyembunyikan
pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan
meninggalkannya akan disayangi.”
Contoh:
Hati Terbuka dalam Praktek
Daud – setelah
dosanya dengan Batsyeba
Ia tidak
hanya berkata, “Maaf,” tetapi:
“Bersihkanlah aku... ciptakanlah hati yang bersih dalam aku.” (Mazmur
51)
➡️ Ia tidak bersembunyi. Ia terbuka. Dan di situlah pemulihan dimulai.
Sebaliknya: Saul
Ketika
ditegur, ia mencari alasan, bukan pertobatan.
➡️ Hatinya tertutup — dan ia tidak dipulihkan.
II. Evaluasi Diri
Menyentuh Pikiran dan Pergumulan (ay. 23b)
“…ujilah aku dan kenallah
pikiran-pikiranku.”
Penjelasan:
1. Makna Kata dalam Bahasa Ibrani
- "Ujilah aku"
Kata Ibrani: בָּחַן – bāḥan
➤ Arti: menguji, menyaring, menilai kualitas melalui tekanan atau api.
➤ Kata ini digunakan dalam konteks seperti mengetes
logam mulia: emas atau perak diuji dengan api untuk mengeluarkan
kotorannya.
- "Kenallah pikiran-pikiranku"
Kata Ibrani untuk "pikiran-pikiran": שַׂרְעַפַּי – sar‘appai
➤ Arti
literalnya: bisikan pikiran, kegelisahan, keresahan batin, bahkan pergumulan atau kekhawatiran
yang tak terucapkan.
Jadi,
ayat ini berarti:
“Tuhan,
uji aku melalui tekanan dan nyatakan segala keresahan dan isi pikiranku yang
terdalam.”
2.
Evaluasi Diri Menyentuh Ranah Pikiran dan Pergumulan
a.
Tindakan dimulai dari pikiran.
Yesus
sendiri berkata bahwa dosa dimulai dari pikiran dan niat hati (lihat Matius 5:28).
Maka, evaluasi diri yang hanya menilai
tindakan luar tidak akan pernah cukup.
Kita harus bertanya:
- Apa yang sedang saya pikirkan?
- Apa yang saya yakini dalam batin?
- Apakah saya menyimpan
dendam, iri, takut, atau ambisi pribadi?
- 3. Daud Meminta Tuhan Menyelami Pergumulan yang Tak
Terucapkan
Kata sar‘appai juga
bermakna:
- Pikiran yang berkecamuk saat malam hari,
- Perasaan yang tidak tersampaikan kepada siapa pun,
- Kegelisahan rohani yang samar dan belum teridentifikasi.
Ini adalah wilayah terdalam dan paling
pribadi dari jiwa kita—dan Daud menyerahkan itu kepada Tuhan.
Mazmur 94:19 (kata yang sama digunakan):
“Apabila
bertambah banyak pikiran dalam batinku, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku.”
4.
Mengapa Pikiran Perlu Diuji oleh Tuhan?
Karena:
- Pikiran bisa menipu
dan membenarkan dosa.
- Pergumulan
batin yang tidak diproses bisa menjadi akar kepahitan, stres, atau bahkan
pemberontakan rohani.
- Banyak
orang terlihat baik, tapi pikirannya dipenuhi kemarahan, ketakutan,
atau keputusasaan.
Roma 12:2
“Berubahlah
oleh pembaharuan budimu…”
Tuhan mau memperbarui pikiran
kita, bukan hanya tindakan kita.
5. Evaluasi Pikiran = Jalan menuju
Damai dan Kemurnian
Ketika
kita menyerahkan pikiran dan pergumulan kita untuk diuji oleh Tuhan:
- Kita akan mengenali
hal-hal yang harus dikoreksi.
- Kita bisa melepaskan
beban yang tersembunyi.
- Kita membuka ruang bagi Roh
Kudus mengisi batin kita dengan damai dan pengertian.
Filipi 4:6–7:
“…serahkanlah
kekhawatiranmu dalam doa… maka damai sejahtera Allah… akan memelihara hati dan pikiranmu.”
Kesimpulan: Evaluasi Pikiran Adalah Evaluasi yang
Paling Dalam
|
Aspek
|
Penjelasan
|
|
"Ujilah aku"
|
Tuhan menguji seperti emas dalam api—untuk
memurnikan
|
|
"Kenallah
pikiranku"
|
Tuhan
menyentuh ranah terdalam: kekhawatiran, ambisi, rasa bersalah, atau luka
batin
|
|
Evaluasi sejati
|
Terjadi saat kita berserah pada Tuhan bukan hanya
secara lahiriah, tetapi juga dalam batin dan pikiran
|
Hidup yang disucikan dimulai dari pikiran yang
diperiksa oleh Tuhan.
Evaluasi diri yang tidak menyentuh pikiran adalah evaluasi yang setengah hati.
III. Evaluasi Diri Mengarah
pada Pertobatan dan Pemulihan (ay. 24)
“Lihatlah, apakah jalanku
serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!”
1.
"Lihatlah, apakah jalanku serong"
Bahasa
Ibrani:
- “Lihatlah” – ūr’ēh (רְאֵה):
perintah kepada Allah untuk mengamati dengan seksama.
- “Jalanku” – derekh (דֶּרֶךְ):
berarti gaya hidup, arah hidup, keputusan sehari-hari.
- “Serong” – ʿōṣeb (עֹצֶב):
bisa berarti menyimpang, membawa dukacita, atau jalan
yang penuh dengan kesusahan dan kesalahan.
Daud tidak sedang memeriksa orang lain. Ia
berkata, “Tuhan, lihat jalanku sendiri, apakah aku sedang menempuh jalan
yang salah, menyakitkan, atau menjauh dari-Mu.”
Makna:
- Evaluasi
diri sejati membuat seseorang berani
melihat kenyataan yang pahit tentang dirinya.
- Ia tidak lagi menipu diri sendiri.
- Ia siap
mendengar bila Tuhan berkata: “Jalanmu
tidak benar. Arah hidupmu menyimpang.”
Tanpa kesediaan untuk mengakui jalan yang
salah, evaluasi diri hanya jadi teori kosong.
2.
"... dan tuntunlah aku di jalan yang kekal."
Bahasa
Ibrani:
- "Tuntunlah aku" – ūnḥēnī
(וּנְחֵנִי): dari akar kata נחה – nāchah, yang berarti menuntun
dengan penuh perhatian, seperti gembala menuntun dombanya.
- "Jalan yang kekal" – derekh ‘ōlām
(דֶּרֶךְ עוֹלָם): jalan yang benar, tetap, dan berujung kepada hidup
yang kekal bersama Allah.
Daud tidak hanya ingin keluar dari jalan yang
salah, tetapi masuk dan berjalan dalam kehendak Allah secara terus-menerus.
Ini adalah pertobatan yang berbuah pemulihan dan arah hidup baru.
3. Evaluasi Diri → Pertobatan → Pemulihan
Pola ini
sangat penting:
|
Langkah
|
Penjelasan
|
|
Evaluasi
|
Tuhan menunjukkan bahwa hidup kita telah
menyimpang.
|
|
Pertobatan
|
Kita
mengakui, menyesali, dan meninggalkan dosa.
|
|
Pemulihan
|
Tuhan menuntun kembali ke jalan-Nya yang benar.
|
Seperti kisah anak yang hilang (Lukas 15):
Ia menyadari
kesalahannya, bangkit, kembali kepada bapanya, dan dipulihkan
sepenuhnya.
4.
Tanda Pertobatan Sejati: Mau Dituntun
Banyak
orang mengaku dosa, tapi tidak mau diarahkan oleh Tuhan.
Pertobatan sejati bukan hanya berkata, "Saya salah," tetapi juga:
“Tuhan,
sekarang Engkau saja yang pimpin hidupku.”
Mazmur 25:4–5
“Beritahukanlah
jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah jalan-jalan-Mu itu kepadaku…”
Pemulihan sejati terjadi saat kita berpindah
kepemimpinan hidup: dari keakuan → ke arah Tuhan.
5.
Evaluasi Diri Tanpa Pertobatan Tidak Menghasilkan Pemulihan
|
Jika…
|
Maka…
|
|
Evaluasi → tapi tidak bertobat
|
→ hanya membawa rasa bersalah
|
|
Evaluasi
→ bertobat → tidak berubah
|
→
kembali jatuh ke pola lama
|
|
Evaluasi → bertobat → dipimpin Tuhan
|
→ mengalami hidup yang diperbaharui dan damai
|
Pertobatan sejati selalu membawa
perubahan arah hidup, bukan
hanya perubahan emosi sesaat.
Kesimpulan
Mazmur
139:24 mengajarkan bahwa evaluasi diri bukan untuk menyalahkan diri
terus-menerus, melainkan:
- Untuk menyadari jalan
yang salah,
- Berbalik kepada Tuhan,
- Dan dipulihkan dalam
bimbingan kasih-Nya.
Evaluasi
diri sejati bukan berakhir dengan rasa bersalah, tapi dengan pemulihan dan
pembaruan hati.
Kesimpulan:
Evaluasi Diri di Hadapan Allah
|
Langkah
|
Respon
|
|
Selidiki hatiku
|
Tuhan ingin kejujuran
|
|
Ujilah
pikiranku
|
Tuhan
menyentuh yang tersembunyi
|
|
Tunjukkan jalan yang serong
|
Tuhan membuka kesalahan
|
|
Tuntun
ke jalan kekal
|
Tuhan
membawa pemulihan
|
Evaluasi diri sejati bukan tentang menyalahkan diri sendiri terus-menerus, tapi menyadari
bahwa Tuhan sedang bekerja memulihkan kita melalui pertobatan.