Jumat, 28 November 2025

HIDUP MANUSIA

 

HIDUP MANUSIA

MAZMUR 144:4 “ Manusia sama seperti angin, hari-harinya seperti bayang-bayang yang lewat”

I. Manusia sama seperti Angin.

Perhatikan Angin.

ü Angin adalah sesuatu yang tidak dapat kita lihat secara nyata, tetapi kita dapat merasakan kehadirannya.

ü Ia datang dan pergi dengan cepat, sering kali tidak meninggalkan jejak yang jelas.

Maka manusia.

ü Manusia juga demikian, kita hadir di dunia ini untuk sementara waktu. Kita lahir, tumbuh, dan hidup di dunia ini seperti angin yang berhembus.

ü Kehadiran kita di sini sangat singkat dan mudah terlewat begitu saja.

II. Hari-harinya seperti bayang-bayang yang lewat.

Perhatikan bayang-bayang

ü Bayang-bayang juga bersifat sementara dan tidak tetap.

ü Mereka hanya ada untuk sesaat, dan kemudian segera menghilang.

Demikian pula dengan hari-hari dalam hidup kita.

ü Setiap hari yang kita jalani adalah sebuah anugerah, tetapi pada akhirnya, mereka berlalu dengan cepat dan tidak dapat kita kembalikan.

ü Masing-masing hari adalah kesempatan untuk hidup dengan maksud dan arti,

ü tetapi kita seringkali terjebak dalam rutinitas dan mengabaikan nilai dan kepentingan sejati dari setiap hari yang kita miliki.

III. Apa Yang Tuhan Mau Ajarkan

1.    Untuk merenungkan tentang nilai kehidupan dan menghargai setiap momen yang diberikan kepada kita.

2.    Kita seringkali terlalu sibuk dengan urusan sehari-hari dan melupakan bahwa hidup kita di dunia ini bersifat sementara.

3.    Kita perlu menghargai setiap kesempatan yang diberikan Tuhan kepada kita.

Ø untuk memberikan kasih, kebaikan, dan kepedulian kepada sesama.

4.    Berhati-hati dengan bagaimana kita menggunakan waktu kita, karena waktu yang kita miliki sangat berharga dan tidak dapat dikembalikan.

5.    Untuk memprioritaskan yang benar dan penting dalam hidup ini.

6.    untuk menjalani setiap hari dengan penuh arti dan berusaha untuk meninggalkan jejak yang berarti di dunia ini.

Oleh sebab itu mari kita hidup dengan penuh kesadaran, menghargai nilai setiap hari yang kita miliki, dan mendedikasikan hidup kita untuk tujuan yang lebih tinggi.

Selasa, 11 November 2025

“Evaluasi Diri di Hadapan Allah”

 

Khotbah “Evaluasi Diri di Hadapan Allah”

Teks: Mazmur 139:23–24

“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Dalam hidup ini, kita sering mengevaluasi banyak hal: keuangan, pekerjaan, penampilan, bahkan orang lain. Namun, evaluasi yang paling penting adalah evaluasi diri di hadapan Allah.

Mazmur 139:23–24 adalah doa yang sangat jujur dan berani dari Daud. Bukan doa minta berkat atau pembelaan, tetapi doa minta diselidiki dan diuji oleh Tuhan sendiri. Inilah inti dari evaluasi diri yang sejati dan menyelamatkan.

I. Evaluasi Diri Dimulai dari Hati yang Terbuka (ay. 23a)

“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku…”

1.  Makna Kata: "Selidikilah aku, ya Allah" (bahasa Ibrani)

  • Selidikilah” dalam Ibrani: חָקַר – ḥāqar
    Arti dasarnya: menyelidiki secara mendalam, menggali, menguji dengan teliti.

Kata ini sering digunakan untuk menggambarkan pencarian yang serius dan menyeluruh, seperti meneliti sesuatu yang tersembunyi di kedalaman.

  • “Kenallah hatiku → dalam bahasa Ibrani: וּדְעָה לְבָבִי – ūde’āh levavi
    “Levav” (לבב) = hati, bukan hanya emosi, tetapi pusat dari kepribadian manusia: pikiran, niat, kehendak, dan moralitas.

 Artinya: Daud meminta Tuhan untuk menggali sampai ke inti terdalam dari siapa dirinya.
Ini bukan permintaan biasa. Ini adalah doa penyerahan total.

2.  Hati yang Terbuka: Syarat Mutlak Evaluasi Diri

a. Tanpa hati yang terbuka, evaluasi diri menjadi dangkal.

  • Evaluasi diri sejati tidak mungkin terjadi jika kita:
    • Bersikap defensif,
    • Menolak kritik,
    • Menyembunyikan dosa.

b. Hati yang terbuka = hati yang rela diselidiki dan dibongkar.

  • Ini bukan tentang mencari pembenaran, tapi siap ditegur dan siap dibentuk ulang oleh Tuhan.
  • Seperti tanah yang dibajak: siap ditanami benih baru setelah lapisan kerasnya dihancurkan.

 Amsal 28:13

“Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi.”

Contoh: Hati Terbuka dalam Praktek

 Daud – setelah dosanya dengan Batsyeba

Ia tidak hanya berkata, “Maaf,” tetapi:
“Bersihkanlah aku... ciptakanlah hati yang bersih dalam aku.” (Mazmur 51)

➡️ Ia tidak bersembunyi. Ia terbuka. Dan di situlah pemulihan dimulai.

 Sebaliknya: Saul

Ketika ditegur, ia mencari alasan, bukan pertobatan.
➡️ Hatinya tertutup — dan ia tidak dipulihkan.

 II. Evaluasi Diri Menyentuh Pikiran dan Pergumulan (ay. 23b)

“…ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku.”

 Penjelasan:

1. Makna Kata dalam Bahasa Ibrani

  • "Ujilah aku"
    Kata Ibrani: בָּחַן – bāḥan
    Arti: menguji, menyaring, menilai kualitas melalui tekanan atau api.
    Kata ini digunakan dalam konteks seperti mengetes logam mulia: emas atau perak diuji dengan api untuk mengeluarkan kotorannya.
  • "Kenallah pikiran-pikiranku"
    Kata Ibrani untuk "pikiran-pikiran": שַׂרְעַפַּי – sar‘appai
    Arti literalnya: bisikan pikiran, kegelisahan, keresahan batin, bahkan pergumulan atau kekhawatiran yang tak terucapkan.

Jadi, ayat ini berarti:

“Tuhan, uji aku melalui tekanan dan nyatakan segala keresahan dan isi pikiranku yang terdalam.”

2. Evaluasi Diri Menyentuh Ranah Pikiran dan Pergumulan

a. Tindakan dimulai dari pikiran.

Yesus sendiri berkata bahwa dosa dimulai dari pikiran dan niat hati (lihat Matius 5:28).

 Maka, evaluasi diri yang hanya menilai tindakan luar tidak akan pernah cukup.
Kita harus bertanya:

  • Apa yang sedang saya pikirkan?
  • Apa yang saya yakini dalam batin?
  • Apakah saya menyimpan dendam, iri, takut, atau ambisi pribadi?
  •  3. Daud Meminta Tuhan Menyelami Pergumulan yang Tak Terucapkan

Kata sar‘appai juga bermakna:

  • Pikiran yang berkecamuk saat malam hari,
  • Perasaan yang tidak tersampaikan kepada siapa pun,
  • Kegelisahan rohani yang samar dan belum teridentifikasi.

 Ini adalah wilayah terdalam dan paling pribadi dari jiwa kita—dan Daud menyerahkan itu kepada Tuhan.

 Mazmur 94:19 (kata yang sama digunakan): “Apabila bertambah banyak pikiran dalam batinku, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku.”

4. Mengapa Pikiran Perlu Diuji oleh Tuhan?

Karena:

  • Pikiran bisa menipu dan membenarkan dosa.
  • Pergumulan batin yang tidak diproses bisa menjadi akar kepahitan, stres, atau bahkan pemberontakan rohani.
  • Banyak orang terlihat baik, tapi pikirannya dipenuhi kemarahan, ketakutan, atau keputusasaan.

Roma 12:2

“Berubahlah oleh pembaharuan budimu…”
 Tuhan mau memperbarui pikiran kita, bukan hanya tindakan kita.

 5. Evaluasi Pikiran = Jalan menuju Damai dan Kemurnian

Ketika kita menyerahkan pikiran dan pergumulan kita untuk diuji oleh Tuhan:

  • Kita akan mengenali hal-hal yang harus dikoreksi.
  • Kita bisa melepaskan beban yang tersembunyi.
  • Kita membuka ruang bagi Roh Kudus mengisi batin kita dengan damai dan pengertian.

 Filipi 4:6–7:

“…serahkanlah kekhawatiranmu dalam doa… maka damai sejahtera Allah… akan memelihara hati dan pikiranmu.”

Kesimpulan: Evaluasi Pikiran Adalah Evaluasi yang Paling Dalam

Aspek

Penjelasan

"Ujilah aku"

Tuhan menguji seperti emas dalam api—untuk memurnikan

"Kenallah pikiranku"

Tuhan menyentuh ranah terdalam: kekhawatiran, ambisi, rasa bersalah, atau luka batin

Evaluasi sejati

Terjadi saat kita berserah pada Tuhan bukan hanya secara lahiriah, tetapi juga dalam batin dan pikiran

Hidup yang disucikan dimulai dari pikiran yang diperiksa oleh Tuhan.
Evaluasi diri yang tidak menyentuh pikiran adalah evaluasi yang setengah hati.

 

 III. Evaluasi Diri Mengarah pada Pertobatan dan Pemulihan (ay. 24)

“Lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!”

1. "Lihatlah, apakah jalanku serong"

 Bahasa Ibrani:

  • “Lihatlah”ūr’ēh (רְאֵה): perintah kepada Allah untuk mengamati dengan seksama.
  • “Jalanku”derekh (דֶּרֶךְ): berarti gaya hidup, arah hidup, keputusan sehari-hari.
  • “Serong”ʿōṣeb (עֹצֶב): bisa berarti menyimpang, membawa dukacita, atau jalan yang penuh dengan kesusahan dan kesalahan.

 Daud tidak sedang memeriksa orang lain. Ia berkata, “Tuhan, lihat jalanku sendiri, apakah aku sedang menempuh jalan yang salah, menyakitkan, atau menjauh dari-Mu.”

Makna:

  • Evaluasi diri sejati membuat seseorang berani melihat kenyataan yang pahit tentang dirinya.
  • Ia tidak lagi menipu diri sendiri.
  • Ia siap mendengar bila Tuhan berkata: “Jalanmu tidak benar. Arah hidupmu menyimpang.”

 Tanpa kesediaan untuk mengakui jalan yang salah, evaluasi diri hanya jadi teori kosong.

2. "... dan tuntunlah aku di jalan yang kekal."

 Bahasa Ibrani:

  • "Tuntunlah aku"ūnḥēnī (וּנְחֵנִי): dari akar kata נחה – nāchah, yang berarti menuntun dengan penuh perhatian, seperti gembala menuntun dombanya.
  • "Jalan yang kekal"derekh ‘ōlām (דֶּרֶךְ עוֹלָם): jalan yang benar, tetap, dan berujung kepada hidup yang kekal bersama Allah.

 Daud tidak hanya ingin keluar dari jalan yang salah, tetapi masuk dan berjalan dalam kehendak Allah secara terus-menerus. Ini adalah pertobatan yang berbuah pemulihan dan arah hidup baru.

3.  Evaluasi Diri → Pertobatan → Pemulihan

 Pola ini sangat penting:

Langkah

Penjelasan

Evaluasi

Tuhan menunjukkan bahwa hidup kita telah menyimpang.

Pertobatan

Kita mengakui, menyesali, dan meninggalkan dosa.

Pemulihan

Tuhan menuntun kembali ke jalan-Nya yang benar.

Seperti kisah anak yang hilang (Lukas 15):

Ia menyadari kesalahannya, bangkit, kembali kepada bapanya, dan dipulihkan sepenuhnya.

4. Tanda Pertobatan Sejati: Mau Dituntun

Banyak orang mengaku dosa, tapi tidak mau diarahkan oleh Tuhan.
Pertobatan sejati bukan hanya berkata, "Saya salah," tetapi juga:

“Tuhan, sekarang Engkau saja yang pimpin hidupku.”

 Mazmur 25:4–5

“Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah jalan-jalan-Mu itu kepadaku…”

 Pemulihan sejati terjadi saat kita berpindah kepemimpinan hidup: dari keakuan → ke arah Tuhan.

5. Evaluasi Diri Tanpa Pertobatan Tidak Menghasilkan Pemulihan

Jika…

Maka…

Evaluasi → tapi tidak bertobat

→ hanya membawa rasa bersalah

Evaluasi → bertobat → tidak berubah

→ kembali jatuh ke pola lama

Evaluasi → bertobat → dipimpin Tuhan

→ mengalami hidup yang diperbaharui dan damai

 Pertobatan sejati selalu membawa perubahan arah hidup, bukan hanya perubahan emosi sesaat.

Kesimpulan

Mazmur 139:24 mengajarkan bahwa evaluasi diri bukan untuk menyalahkan diri terus-menerus, melainkan:

  • Untuk menyadari jalan yang salah,
  • Berbalik kepada Tuhan,
  • Dan dipulihkan dalam bimbingan kasih-Nya.

Evaluasi diri sejati bukan berakhir dengan rasa bersalah, tapi dengan pemulihan dan pembaruan hati.

Kesimpulan: Evaluasi Diri di Hadapan Allah

Langkah

Respon

Selidiki hatiku

Tuhan ingin kejujuran

Ujilah pikiranku

Tuhan menyentuh yang tersembunyi

Tunjukkan jalan yang serong

Tuhan membuka kesalahan

Tuntun ke jalan kekal

Tuhan membawa pemulihan

 Evaluasi diri sejati bukan tentang menyalahkan diri sendiri terus-menerus, tapi menyadari bahwa Tuhan sedang bekerja memulihkan kita melalui pertobatan.